Senin, 30 Maret 2020

Wisata api tak kunjung padam

ARTIKEL TENTANG API TAK KUNJUNG PADAM DI MADURA PAMEKASAN

Assalamualaikum wr. Wb.
Haloo teman teman๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š, apa kabar nih kalian?? Tentunya baik dong ya kann??  Masih semangat kan kuliah daringnya? ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…
Mau gamau harus semangat yaa demi masa depan kalian nanti . Kuliah daring pastinya ada rasa bosan dong dirumah terus!! Biar gabosan yukk baca artikel tentang tempat wisata yang ada di pamekasan biar gak gabut.๐Ÿ˜…
Di pamekasan banyak lho! Destinasi wisata yang di jadikan rekomends untuk kalian semua salah satunya adalah wisata api tak kunjung padam, bisa juga api alam atau api abadi tetapi di pamekasan biasanya di kenal dengan "dhengka" yuk simak penjelasannya terlebih dahuluuuuu.....

Wisata api alam yang dikenal memiliki api abadi di Kabupaten Pamekasan Madura merupakan satu dari sekian banyak api alam yang ada di dunia. Wisata langka ini berada di Desa Larangan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Madura, Jawa Timur.Lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota Pamekasan yang berjarak kurang lebih 4 km dengan lama perjalanan sekitar 15 menitan. Atau jika ditempuh dari Kota Surabaya membutuhkan waktu kurang lebih 2,5-3 jam melewati Jembatan Suramadu.Keunikan dari wisata api tak kunjung padam ini adalah semburan api yang berasal dari bawah permukaan tanah atau perut bumi. Hebatnya, meski diguyur air api di sini akan tetap menyala. Keajaiban api abadi ini sudah sangat terkenal khususnya bagi masyarakat Madura. Jadi tak heran bila setiap harinya tempat ini ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran ingin melihat langsung semburan api menyembur dari celah tanah.
Api Tak Kunjung Padam ini, hampir setiap harinya tidak sepi dari pengunjung. Beberapa dari mereka, selain memang murni bertamasya juga ada yang ngalab berkah guna melancarkan hajat. Hal ini tentu tidak terlepas dari adanya legenda asal-muasal Api yang keluar alami dari tanah dan tak padam meski hujan mengguyur.Api Tak Kunjung Padam atau biasa disebut “Dhangka” ini, memang memiliki latar belakang kisah dari suatu legenda ” Pernikahan Ajaib KI MOKO “. Konon pada sekitsr abad XVI tahun 1605 saka atau tahun 1683 Masehi, hiduplah seorang pengelana penyebar agama Islam yang memiliki kesaktian dahsyat, bernama KI MOKO dengan nama aslinya R. WIGNYO KENONGO. Ia adalah seorang pencari ikan yang bertempat tinggal di tengah hutan yang tandus. Kisah ini bermula saat KI MOKO mendengar berita bahwa, Raja dari Kerajaan Palembang sedang dirundung kesedihan karena seorang putrinya tengah menderita sakit yang tak kunjung sembuh, meski telah banyak tabib yang mengobatinya. Pada kesempatan itu KI MOKO terpanggil untuk mencoba membantu mengobati penderitaan sang putri raja. KI MOKO mempersembahkan sesuatu kepada Sang raja berupa bumbung-bumbung bambu yang berisi penuh dengan berbagai mata ikan. Bumbung-bumbung itu dikirimkan melalui utusan.
Saat raja menerima persembahan dari KI MOKO, alangkah sangat terkejutnya sang raja karena barang yang semula dianggap kurang berharga menjelma menjadi barang berharga berupa Permata Intan dan Berlian. Sang raja sangat terkeut dan gembira begitu pula Sang Putri yang pada akhinya membuat ia sembuh dari sakitnya. Melihat kejadian ini Sang Raja merasa berhutang budi kepada KI MOKO dan sesuai janjinya Sang Raja menganugerahkan hadiah berupa sebuah peti kepada KI MOKO dan dikirim melalui utusan pula. Setelah peti tersebut sampai ke tangan KI MOKO dan dibukanya ternyata dari dalamnya terjelma seorang Putri yang amat cantik jelita, itulah SITI SUMINTEN Putri Raja yang sengaja dianugerahkan kepada KI MOKO untuk dijadikan istri. Menghadapi kenyataan ini KI MOKO sangat gembira hatinya namun, kegembiraan itu sejenak berubah menjadi rasa risau karena kebersamaan dengan itu pula tersirat suatu berita bahwa, tak lama lagi rombongan dari Kerajaan akan segera datang ke tempat kediaman KI MOKO untuk melangsungkan perayaan pernikahan. Kerisauan KI MOKO disebabkan karena tempat kediaman serta segala kebutuhan perayaan sangat tidak memungkinkan. Namun, kerisauan tersebut akhirnya sirna setelah KI MOKO memusatkan batin melalui semedinya untuk memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Dengan menancapkan tongkat saktinya, Ajaib, berdirilah bangunan istana yang sangat megah ( bangunan tersebut akan sirna setelah kegiatan perayaan selesai ). Demikian pula untuk memenuhi kebutuhan yang lain seperti kebutuhan sumber makanan, air, dan seterusnya dengan cara yang sama KI MOKO menancapkan tongkatnya pada tanah. Pada saat itulah tercipta sumber air yang akhirnya menjadi sebuah telaga serta pancaran kobaran api yang senantiasa menyala dan akan berguna untuk kebutuhan manusia. Dengan demikian puaslah hati KI MOKO dan pelaksanaan pesta pernikahanpun dapat berjalan dengan lancar. Namun, saat upacara pernikahan usai dan segenap keajaiban sirna, hanya tersisa pancaran kobaran api yang tidak sirna. Melihat hal itu, Ki Moko menghampiri api itu dan menyuruhnya kembali ke asalnya. Akan tetapi ajaib, sang apipun berkata, ” Biarkan aku tetap disini untuk menemani seluruh anak cucumu hingga akhir hayat“. Singkatnya sampai saat ini, semburan api alam tersebut masih tetap abadi hingga dikenal dengan istilah ” API TAK KUNJUNG PADAM / DHANGKA”. Dhangka artinya rumah tempat kediaman / Istana yang kemudian sirna. Sedangkan Patilasan / makam KI MOKO sendiri terletak di dusun Palanggaran Desa Branta Tinggi Kecamatan Tlanakan Kab. Pamekasan yang sampai saat ini oleh masyarakat sekitar masih dikeramatkan pula. Untuk merawat / menjaga sumber api dan sumber air tersebut, maka KI MOKO mengutus Ki Rahma dan Nyi Rahma ( Buju’Tonggah ) yang artinya sebagai penunggu yang kuburannya / astanya terletak di Pojok Barat Laut Lokasi wisata Api Tak Kunjung Padam tersebut.
Api abadi ini berada dalam sepetak tanah yang telah dipagari.Jika tanah tersebut digali, maka akan muncul api berwarna biru persis api yang menyembul dari kompor gas. Namun ajaibnya, hanya tanah dalam petak pagar yang memiliki nyala api. Sehingga warga masih bisa menetap di sekitar lahan Api Tak Kunjung Padam. Fenomena ini terjadi akibat ruas tanah yang dipagari mengandung belerang. Uap dari belerang tersebut kemudian bergesekan dengan oksigen, sehingga menghasilkan api yang tak dapat padam.
Kini api tak kunjung padam menjadi salah satu destinasi wisata yang paling diminati oleh masyarakat madura khususnya masyarakat pamekasan. Dengan keunikannya ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk mengunjungi wisata ini. Sayangnya  sekarang, kawasan Api Tak Kunjung Padam disesaki rumah-rumah penduduk hingga terkesan kumuh dan tak terurus.
 Pesan niihhh untuk para pembaca jaga lingkungan alam agar tetap lestari dan jangan biarkan terlantar๐Ÿ˜Š karena jika alam di lestarikan di jaga maka alam pun akan menjaga kita๐Ÿ˜Š cukup sekiaan terimakasih
Wassalamu'alaikum wr. Wb.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar