Minggu, 18 November 2018
Puisikuu
oleh Moh. Horri
ANTOLOGI PUISI 2009-2010-2011
SAAT KAU JAUH
Lembar kenangan kita ukir kerap bersama
Membayang mimpi-mimpi lelap
Melimpahkan beribu bunga mengabjad di kalbu
Meski 1000 kumbang datang membawa asmara
Namun takmampu menembus kerinduan
Terkadang rindu ini menggayut dalam dada
Tatkala kau kosong di mata
Kemarilah... kemarilah...
Kemarilah... kemarilah...
Bunga pucat ini menanti selendang putih
Bersama tulus, hati murni
Dekatkan hati kau
Tempel didinding jiwa
Agar ku merasa terhibur
Tatapkan mata kau
Kau bola emas didalamnya
Kembalilah dalam dekapan
Mawar putih mananti
Bersama hati cemas
06-08-2009
TOLONG LUPAKAN AKU
Dunia begitu cerah
Surga begitu indah
Penuh romansa bunga-bunga
Namaun pandangan mata mulai suram
Penciuman wewangian musnah
Saat kau toreh leher hati
Kau seret ka jurang kenistaan
Bagai angin topan menerpa debu
Hingga ku tak mampu hidup kembali
Harapan tertimbun pasir hitam,
Kesabaran lenyap,
Kepercayaan senyap...
Mentari...
Lepaskan janji yang kita telan masa itu
Ku takkan datang merenggut bahagiamu
Tolang lupakan aku
Ku tak lagi mampu memberi ruang hidup
06-08-2009
KEMBALI DALAM PELUKAN
Bagai emas berhambur di jalan
Bagai surga menerpa senja
Dulu....
Kau hanya mimpi,
Kau pandangan kecil dalam hari-hari ku
Tapi kau menggenggam secercah harapan
Kau balut luka dalam
Kau kembali angkat jari manuding pelita bekas mu
Aku tersenyum pilu.
Aku tak bisa mengembalikan bayang-bayang saat kau diderai hawa nafsu
Hingga kau potong jalan nafas hati
Harap, harap, harap, harapan
Datang membawa bianglala
Dunia sirna takkan ada jin menjelma
Sepoi-sepoi angin memeluk rasi
Saat ikrar berkobar dipingir naungan mata
Bayang-bayang menyelinap depan teleskop
Kegebalan dada menyusun tulang-tulang rusuk
Agar talitemali tetap terikat
Hingga ahir senja
23-10-2009
PISAH MASA DEPAN
Dari hari-hari hari-hari
Tak lepas dari aduk campur menyesatkan
Menyingkirkan detik kemenit, menit ke jam
Hingga kini ajalkan menyita segalanaya
Mimang tali temali begitu kencang
Namun pisau memotong dengan ketajaman lidahnya
Begitulah takdir hidup
Maaf kasih
Kepergianku kembalianku
Bila mentari esok masih bersinar
Coretan pena goresan tinta
Terlalu banyak mengubur air mata
Lembar kenangan manjadi novel
Terlalu banyak terlontar
Tapi kita harus menyadari
Masa depan memanggilku disana
Meski berat meninggalkan jejak patah
Meski sulit melupakan gambar-gambar dinding
Namun kita harus kejar detik waktu
Saksi bisu semangat
07-10-2009
SEBONGKAH NALURI
Dikala senja berganti malam
Bulan datang menyinari awan disana
Bulan-bulan menghiasi permata mataku
Membawa sekujur bidaddari
Kau tersenyum mengajak bertari,
Menyanyi,
Kemudian ketawa
Membongkar semua isi hati
Wajahmu berseri mengajak terbang jauh...
Tatkala kegebalan dadamu menimpel didinding dadaku
Sekujur tubuhku bergoncang
Bagai kesetrum kesetiaan
Tatkala gersang menerpa asa
Kau bahagia
Bilamana matamu berkedip, mulutmu tersenyum
Kau bidaddari yang tak secantik bidaddari
Kau sinderella yang tak seindah putri raja
Namun kau juita setia dampingi hati sepi
Kau rela bertahan demi sekujur jasat
Hingga malam tak lagi gelap
Jika matamu terlelap
Masih saja kau satukan hiti ini
Kau bagai nyamuk merdu terdengar
Yang setiap saat menyapaku
Melalui cubitan bibir mirah
Rambutmu terurai panjang
Penuh setia dalam
Setetes air bening
Terlepas dari kedipmu
Sejuta permata
Tertumpah dari senyummu
Membangun bahagia hidup
Di kesendirian...
Angin datang membawa dendang cinta
Hingga termenungkan wajahmu yang elok
25-02-2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar